TRAGEDI BERDARAH DI BIMA NUSA
TENGGARA BARAT
(Tema
: Pertentangan Sosial dan
Integrasi Masyarakat)
A.
Pengertian
1.
Pertentangan Sosial
a) Terdapatnya
dua atau lebih unit-unit atau baigan-bagianyang terlibat di dalam
konflik.
b) Unit-unit
tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-kebutuhan,
tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun
gagasan-gagasan
c) Terdapatnya
interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.
2.
Integrasi Sosial dan Integrasi Nasional
Integrasi
sosial adalah sesuatu yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama
lain dalam unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan. Suatu integrasi sosial di
perlukan agar masyarakat tidak terpecah jika menghadapi berbagai tantangan yang
timbul dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
Menurut pandangan para penganut fungsionalisme, struktur sistem sosial terintegrasi dalam suatu masyarakat di atas tumbuhnya kesepakatan antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat mendasar. Dimana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
Menurut pandangan para penganut fungsionalisme, struktur sistem sosial terintegrasi dalam suatu masyarakat di atas tumbuhnya kesepakatan antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat mendasar. Dimana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.
prasangka. Syarat terjadinya integrasi sosial
antara lain:
a) Anggota
masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan mereka.
b) Masyarakat
berhasil menciptakan kesepakatan bersama mengenai norma dan nilai sosial yang
dilestarikan dan dijadikan pedoman.
c) Nilai
dan norma berlaku lama dan tidak berubah serta dijalankan secara konsisten.
Sedangkan
integrasi nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari suatu
masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan
masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Selain
itu dapat pula diartikan bahwa integrasi bangsa merupakan kemampuan pemerintah
yang semakin meningkat untuk menerapkan kekuasaannya di seluruh wilayah (Mahfud
MD, 1993: 71). Contoh wujud integrasi nasional, antara lain sebagai berikut:
a) Pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di
kompleks Taman Mini Indonesia Indah terdapat anjungan dari semua propinsi di
Indonesia (waktu itu ada 27 provinsi). Setiap anjungan menampilkan rumah adat
beserta aneka macam hasil budaya di provinsi itu, misalnya adat, tarian daerah,
alat musik khas daerah, dan sebagainya.
b) Sikap toleransi antarumat beragama, walaupun
agama kita berbeda dengan teman, tetangga atau saudara, kita harus saling
menghormati.
c) Sikap
menghargai dan merasa ikut memiliki kebudayan daerah lain, bahkan mau
mempelajari budaya daerah lain, misalnya masyarakat Jawa atau Sumatra, belajar
menari legong yang merupakan salah satu tarian adat Bali.
Contoh-contoh pendorong integrasi nasional :
a) Adanya
rasa keinginan untuk bersatu agar menjadi negara yang lebih maju dan tangguh di
masa yang akan datang.
b) Rasa
cinta tanah air terhadap bangsa Indonesia
c) Adanya
rasa untuk tidak ingin terpecah belah, karena untuk mencari kemerdekaan itu
adalah hal yang sangat sulit.
d) Adanya
sikap kedewasaan di sebagian pihak, sehingga saat terjadi pertentangan pihak
ini lebih baik mengalah agar tidak terjadi perpecahan bangsa.
e) Adanya
rasa senasib dan sepenanggungan
f) Adanya
rasa dan keinginan untuk rela berkorban bagi bangsa dan negara demi terciptanya
kedamaian
B.
Contoh Kasus
Liputan6.com,
Jakarta: Puluhan demonstran menuntut keperpihakan pemerintah pusat dan
daerah yang secara terang-terangan terhadap pengusaha besar harus segera
diakhiri. Bila tidak, mereka mengkhawatirkan hal itu akan terus memicu konflik
baru. Selain itu, izin usaha pertambangan di daerah dipandang sebagai pangkal
dari berbagai masalah konflik di daerah.
Mereka mencontohkan Surat Keputusan Nomor 188.45/357/004/2010 tentang Izin Usaha Pertambangan di Lambu, Nusa Tenggara Barat, yang telah dikeluarkan Bupati Bima Ferry Zulkarnain. Inilah
"Ini merupakan cikal bakal lahirnya konflik dan ternyata mengundang reaksi penolakan keras dari masyarakat setempat dengan langkah memblokir Pelabuhan Sape," ujar Muslihun, Koordinator Solidaritas Mahasiswa, Pemuda dan Masyarakat Bima Bersatu di Bundaran Hotel Indonesia, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (26/12).
Karena itu, mewakili masyarakat Bima, mereka mendesak kepada pemerintah pusat dan daerah untuk segera menghapus SK tersebut. "Jika tidak tidak menutup kemungkinan masyarakat Bima akan terus jatuh korban jiwa." Selain mengecam tindakan represif aparat kepolisian, mereka juga mendesak kepada Kepala Polri Jenderal Pol. Timur Pradopo untuk segera mundur. Kepala Kepolisian Daerah NTB, Kepala Kepolisian Resor Bima, dan Kepala Kepolisian Resor Kota Bima juga diminta turun.
"Tangkap dan adili Gubernur NTB Zainul Majdi dan Bupati Bima, mereka harus bertanggung jawab," ucap Muslihun.(ANS).
·
Berikut kronologi tragedi di Bima;
tragedi berdarah di Bima berawal dari penolakan warga kec. Sape & Lambu kab. Bima NTB terhadap eksplorasi tambang di daerahnya oleh PT SMN (Sumber Mineral Nusantara). eksplorasi dilakukan atas restu dari pimpinan daerah setempat dengan dikeluarkannya SK 188 tentang ijin eksplorasi di kec. Lambu & Sape.
tragedi berdarah di Bima berawal dari penolakan warga kec. Sape & Lambu kab. Bima NTB terhadap eksplorasi tambang di daerahnya oleh PT SMN (Sumber Mineral Nusantara). eksplorasi dilakukan atas restu dari pimpinan daerah setempat dengan dikeluarkannya SK 188 tentang ijin eksplorasi di kec. Lambu & Sape.
·
Penolakan warga berujung dengan demo
masyarakat menduduki pelabuhan Sape. aksi tersebut berkahir dengan pembubaran
paksa oleh aparat kepolisian. bukan hanya pembubaran paksa yang menjadikan
kasus ini menjadi memanas, tapi lebih dari itu pembubaran oleh pihak kepolisian
menewaskan 3 orang demonstran (versi polisi) dan 5 orang demonstran (versi
walhi). kasus ini sontak menjadi berita utama di Televisi-televisi nasional,
bersamaan dengan kasus pelanggaran HAM lain di Mesuji-Lampung.
·
Merasa tuntutannya tidak digubris oleh
Bupati Bima warga Lambu & Sape melanjutkan aksinya dengan masa yang lebih
besar ke kantor bupati. masa yang tidak bisa dikendalikan karena adanya aksi
provokasi bertindak anarkis. aksi ini berujung pembakaran kantor Bupati dan
kantor KPUD Bima.
Di luar
kronoogi kericuhan di Bima yang gembar-gembor di media tersebut sebenarnya
tersembunyi intik politik yang mengerikan. disadari atau tidak ada indikasi
kasus eksplorasi tambang di Bima memang sengaja di angkat ke publik untuk
menutupi dua kasus besar yang sedang dihadapi oleh Penguasa di Bima saat ini.
dua kasus yang dihadapi oleh pemeritah daerah tersebut adalah kasus kecurangan
pemilu dan kasus korupsi di lingkugan pemerintah kabupaten Bima.
·
Sebelumnya kasus tambang ini mencuat
bupati Bima digugat dengan tuntutan kecurangan PemiluKada. kasus tersebut sudah
di proses ke Mahkamah konstitusi.
·
Indikasi kedua adalah korupsi di tubuh Pemda,
sebut saja salah satu contoh kecilnya yaitu uang transportasi pengawas di
kabupaten Bima yang belum dibayar selama 3 bulan pada tahun 2010 & pada
tahun 2011 selama 6 bulan. bisa dibanyangkan berapa banyak uang yang
diselewengkan bila dikalikan dengan jumlah keseuruhan pengawas di kab. Bima
(minimal ini salah satu kasusnya).
Lalu
apa hubungannya dengan demonstrasi anti tambang? apakah hanya sekedar
pengalihan isu? jawabanya jelas TIDAK, setelah dikonfirmasi lebih jauh ternyata
PT SMN di Kompleks Rukan Tanjung Mas Raya Blok B1 No 43, Tanjung Barat,
Jakarta Selatan yang diisuekan milik anak perusahaan Bacrie group tersebut
ternyata FIKTIF (berita tentang alamat fiktif ini sudah banyak di media
Online), dari sini sangat mungkin kasus ini sengaja di buat.
Berikutnya adalah ketidakjelasan alasan bupati Bima yang menunda-nunda pencabutan SK 188, padahal pemerintah pusat sudah kemberikan instruksi untuk segera mencabut SK 188. namun SK 188 tidak kunjung dicabut sampai akhirnya masyarakat Lambu & Sape melakukan aksi anarkis dengan membakar kantor Bupati & kantor KPUD Bima.
Lalu pertanyaannya kenapa yang dibakar justru kantor KPUD yang menyimpan berkas-berkas pemilukada? & ruang-ruang berkas pertanggungjawaban keuangan daerah? lalu bagaimana mungkin pihak kepolisian yang sebenarnya sudah mengetahui akan ada demonstrasi besar, bukannya memperketat pengawalan malah seolah-olah menghilang dari tempat demonstrasi?
kalau kita berpikir jernih, ini adalah salah satu bentuk managemen konflik yang sangat rapi namun keji, dimana konflik dihadirkan untuk menutupi sebuah kasus hukum yang melibatkan penguasa, bahkan juga digunakan untuk menghilangkan barang bukti. ditambah lagi yang lebih memprihatinkan dari ini semua adalah jatuhnya korban jiwa yang seolah-olah ditumbalkan demi lolos dari jeratan Hukum.
Berikutnya adalah ketidakjelasan alasan bupati Bima yang menunda-nunda pencabutan SK 188, padahal pemerintah pusat sudah kemberikan instruksi untuk segera mencabut SK 188. namun SK 188 tidak kunjung dicabut sampai akhirnya masyarakat Lambu & Sape melakukan aksi anarkis dengan membakar kantor Bupati & kantor KPUD Bima.
Lalu pertanyaannya kenapa yang dibakar justru kantor KPUD yang menyimpan berkas-berkas pemilukada? & ruang-ruang berkas pertanggungjawaban keuangan daerah? lalu bagaimana mungkin pihak kepolisian yang sebenarnya sudah mengetahui akan ada demonstrasi besar, bukannya memperketat pengawalan malah seolah-olah menghilang dari tempat demonstrasi?
kalau kita berpikir jernih, ini adalah salah satu bentuk managemen konflik yang sangat rapi namun keji, dimana konflik dihadirkan untuk menutupi sebuah kasus hukum yang melibatkan penguasa, bahkan juga digunakan untuk menghilangkan barang bukti. ditambah lagi yang lebih memprihatinkan dari ini semua adalah jatuhnya korban jiwa yang seolah-olah ditumbalkan demi lolos dari jeratan Hukum.
Kesimpulan :
Kasus diatas sering kali terjadi karena adanya sikap
yang tidak terbuka antara golongan penguasa terhadap rakyat kecil sehingga
sering kali terjadi kesalah pahaman antara satu dengan yang lain. maka dari itu
, masyarakat indonesia harus menanamkan sikap dan kesediaan menenggang dan
sikap terbuka golongan penguasa sehingga meniadakan kemungkinan diskriminasi.
Sumber Referensi :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar